Pages

Rabu, 04 September 2013

An Error Analysis on Students’ Recount Text - CEA

An Error Analysis on Students’ Recount Text
                                                                            By                                                                           
Abdul Malik Hakim, Annisa Febrinel Hendry, Asep Amir Hamzah, Septiyani Wafda, Wiwin Winingsih
English Education Department
Faculty of Tarbiyah and Teachers’ Training
Syarif Hidayatullah State Islamic University
chez_wizard@ymail.com

Abstract
The purpose of this paper is to know the common mistake and error that the students’ make in conducting their own recount text. This paper required the researchers to examine 9 writing samples out of 36 populations in 10th grade Multimedia class of SMK Yapimda, Pasar Minggu. The researchers have known that the students have learned about the Recount text and Simple Past Tense which becomes the main highlight. The instrument that is used in this research is students’ recount writing and Karl James Table. All of the errors and mistakes are identified and classified using the James Table. The result of identification shows the common mistakes that the students’ always make which derived those mistakes into errors because it happens constantly in students’ writing. Those errors are verb tense, word choice, and word order which are important in writing recount. Therefore, the information towards the students’ errors in conducting their recount text could help the teacher to be more specified to the students’ common errors in teaching recount text.

RECIPROCAL TEACHING

RECIPROCAL TEACHING

Reciprocal teaching adalah suatu prosedur pengajaran yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa tentang strategi pemahaman mandiri yang berbentuk diskusi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa, yang memberikan kesempatan berfikir dan saling bertukar pengalaman belajar yang berdasarkan prinsip-prinsip pengajuan pertanyaan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk memperbaiki kinerja membaca siswa dalam memahami bacaan. Model reciprocal teaching menempatkan siswa (peserta didik) sebagai subyek belajar yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang berbeda-beda (Fosi, 2006).

Pendekatan pembelajaran ini dimunculkan oleh Palinscar tahun 1982 ketika dia menemukan beberapa muridnya yang mengalami kesulitan dalam memahami sebuah teks bacaan. Seorang siswa dapat saja membaca sekumpulan huruf yang membentuk kata namun ternyata untuk memahami makna dari teks yang dibacanya tidak semudah melafalkan bacaan tersebut. Nah, inilah masalah yang melatarbelakangi kemunculan metode pembelajaran resiprokal. Sedangkan pengajaran reciprocal bertujuan untuk memberikan teknik atau strategi pada para siswa agar dapat mencegah terjadinya kegagalan kognitif dalam kegiatan membaca.

Teknik- Teknik Supervisi Pendidikan

Teknik- Teknik Supervisi Pendidikan

            Kegiatan-kegiatan apakah yang dapat kita lakukan dalam rangka pemberian bimbingan sebagai seorang supervisor terhadap anggota stafnya? Dengan kata lain: teknik-teknik apakah yang dapat kita pergunakan dalam supervisi? Hal ini tergantung dari banyak hal, misalnya: dari masalah, dari tempat dan waktunya, dari orang yang kita hadapi,baik jumlahnya maupun sifatnya. Kalau yang kita hadapi hanya seorang, dapatlah kita mengadakan komunikasi langsung, dengan wawancara, dengan perundingan, dengan cara hati ke hati. Kalau masalahnya mengenai metode mengajar dan mengenai hasil belajar siswa, dapat kita mengadakan kunjungan kelas kepada guru yang kita bimbing pada waktu ia mengajar. Kalau yang kita hadapi seluruh staf, dapat kita adakan pertemuan/rapat yang merupakan komunikasi langsung. Kalau tidak dapat kita kumpulkan kelompok itu sekaligus, dapt pula kita pergunakan surat edaran, buletin, pengumuman dan sebagainya. Jika yang disupervisi lebih besar lagi dan meliputi pihak-pihak yang luas, dapat kita adakan seminar atau workshop.[1]
            Usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai alat (device) dan teknik supervisi. Umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat/ teknik (John Minor Gwyn, 1963: 326-327). Teknik yang bersifat individual, yaitu teknik yang dilaksanakan untuk seorang guru secara individual dan teknik yang bersifat kelompok, yaitu teknik yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang.[2]

Sistem pembahasan masalah filsafat dan filsafat pendidikan (Masalah ontologi-metafisika, epistemologi dan aksiologi)

Sistem pembahasan masalah filsafat dan filsafat pendidikan
A. Definisi
1.     Apa itu sistem?
Kata sistem sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika kita berbincang-bincang kecil tentang suatu organisasi atau ketika berdiskusi tentang suatu kepemerintahan di sebuah negara. Lalu apa sebenarnya arti ‘sistem’ itu sendiri? Menurut Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira, sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang terbentuk dari beberapa unsur, atau komponen, atau bagian yang satu sama lain berada dalam keterikatan yang kait-mengait dan fungsional. Masing-masing kohesif satu sama lain, sehingga ketotalitasan unit terjaga utuh eksistensinya. Sistem dapat diartikan pula sebagai sesuatu yang lebih tinggi daripada hanya merupakan cara, tata, rencana, skema, prosedur atau metode. Sistem adalah suatu cara yang mekanismenya berpola dan konsisten, bahkan mekanismenya sering bersifat otomatis (Kantaprawira).[1]
Jadi, secara sederhana sistem adalah satu atau beberapa elemen yang saling membutuhkan dan saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jika salah satu elemen tersebut rusak, maka akan mempengaruhi keseluruhan elemen maka sistem pun akan terganggu fungsinya. Jadi dengan kata lain, jika salah satu elemen bermasalah maka akan mengganggu efektivitas sebuah sistem karena satu elemen dan yang lainnya saling berkaitan.

2.     Apa itu masalah?
Setiap orang pasti pernah mempunyai masalah, baik orang kaya maupun orang miskin, baik masalah besar maupun masalah kecil. Masalah menjadikan kita lebih dewasa dalam menjalani hidup. Karena, dengan masalah kita akan menemukan berbagai macam solusi dan kita dapat memilih mana yang paling bijak diantara solusi-solusi tersebut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan).[2] Masalah adalah tempat terbaik untuk berlatih agar hati kita tetap terbuka karena masalah adalah bagian dari kehidupan kita (RICHARD CARLSON).[3] Begitupula didalam ilmu filsafat terdapat beberapa masalah yang umum terjadi. Tiga masalah umum yang biasa terjadi itu adalah ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Concept, Types, and Application Stages of (English) Learning Method

Concept, Types, and Application Stages of (English) Learning Method

A.    Definition
                               I.            Concept
            A concept according to Cambridge Advanced Learner’s Dictionary is a principle or idea. According to Oxford dictionary, concept is an abstract idea, a plan or intention, an idea or invention to help sell or publicize a commodity, [as modifier] (of a car or other vehicle) produced as an experimental model to test the viability of innovative design features, Philosophy an idea or mental image which corresponds to some distinct entity or class of entities, or to its essential features, or determines the application of a term (especially a predicate), and thus plays a part in the use of reason or language. A concept is a kind of unit in terms of which one thinks; a unit smaller than a judgment, proposition, or theory, but one which necessarily enters into these.[1] Concept is variously defined by sources. Philosophers generally agree that a concept is an idea formed from inference.[2]
                            II.            Step
As it has been stated in Cambridge Advance Learners’ Dictionary (2008) step is to move by lifting your foot and putting it down in a different place, or to put your foot on or in something.
                         III.            Application
            Application is a way in which something can be used for a particular purpose; the determination to work hard over a period of time in order to succeed at something (CALD: 2008).

LINGUA FRANCA, PIDGIN DAN CREOLE

LINGUA FRANCA

Lingua franca (bahasa Latin yang artinya adalah "bahasa bangsa Franka") adalah sebuah istilah linguistik yang artinya adalah "bahasa pengantar" atau "bahasa pergaulan" di suatu tempat di mana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda. Ayatrohaedi menerjemahkan istilah ini dengan istilah basantara, dari kata "basa" atau "bahasa" dan "antara".
Sebagai contoh adalah bahasa Melayu atau bahasa Indonesia di Asia Tenggara. Di kawasan ini bahasa ini dipergunakan tidak hanya oleh para penutur ibunya, namun oleh banyak penutur kedua sebagai bahasa pengantar. Contoh yang lain adalah bahasa Inggris di pentas internasional.
Lingua franca mempunyai dua pemerlain, yaitu:
1.      Dipakai hanya pada hubungan-hubungan sementara dengan tujuan terbatas, khususnya perdagangan.
2.      Tidak memiliki struktur gramatik yang betul-betul mantap dan mungkin adanya pensejajaran kata-kata.
Contoh bahasa lingua francas sangat banyak, dan ada di setiap benua. Contoh yang paling jelas saat ini adalah bahasa Inggris, yang merupakan lingua franca internasional untuk bisnis, ilmu pengetahuan, teknologi, dan penerbangan. Ada banyak lingua francas lainnya yang terpusat pada daerah tertentu, seperti Arab, Cina, Rusia, dan Spanyol.

Selasa, 03 September 2013

Tentang Menjadi Istri dan Ibu yang baik..

Someone: cita-cita kamu apa?

Me: jadi istri solehah buat suamiku dan ibu yang baik buat anak-anak aku..
Someone: itu bukan cita-cita tapi itu kewajiban..


Ya kira2 itulah sekilas percakapan aku dengan kaka kelasku ketika aku duduk di bangku SMA.. Seseorang yang udah aku anggap seperti kaka aku sendiri.. Yang baik, perhatian, dewasa, dan bijaksana.. Entah apa yang ada di pikiranku saat ia bertanya  dan dengan spontan aku menjawab seperti itu.. Padahal saat itu pikiranku masih jauuuh dari hal yang berbau pernikahan.. Kekeluargaan.. Tapi memang, menjadi istri yang baik untuk suami aku dan ibu yang baik untuk anak-anakku itu keinginan tertinggi aku..


"Tapikan sayang da udah sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma diem di rumah ga ngapa-ngapain..."


Itu respon salah satu temen kuliahku saat aku menceritakan mimpiku untuk menjadi istri dan ibu yang baik buat anak-anak aku.. Sebenernya apa sih yang salah dari mimpi aku? siapa juga yang bilang jadi ibu yang baik harus selalu stay di rumah? Menurut aku, ibu yang baik itu yang gigih dan keras bekerja di luar untuk membantu suami tetapi tetep perhatian dan lembut di dalam rumah.. Ibu yang baik itu yang sibuk dengan setumpuk laporan di kantornya tapi selalu sempet nyiapin susu hangat untuk anaknya di pagi hari dan sempet nyanyiin nina bobo saat anaknya mau tidur.. Ibu yang baik itu yang punya segudang kegiatan tapi selalu menjadikan keluarga hal yang pertama dan utama.. Ibu yang baik itu bukan terukur dari prestasinya di kantor tetapi pengakuan dari anak dan keluarga.. Ibu yang baik itu bisa ngebuat anaknya ngerasa nyaman berada di dalam rumah dengan pelukan hangat dan masakan-masakannya yang enak.. Ahh menjadi ibu yang baik itu memang ga mudah.. Manjadi ibu yang baik itu dorongan naluri.. Dorongan hati.. Karena ga ada sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi ibu yang baik.. That's why aku pengen banget bisa jadi ibu yang baik buat anak-anak aku kelak :))


"Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas....." -Dian Sastrowardoyo-


Quote diatas itu emang ngena banget buat aku.. Iya bener. Sekalipun nanti suami aku pengen aku stay di rumah, ngurus anak-anak, aku ga akan pernah ngerasa 'sayang' sama pendidikan yang udah pernah aku jalanin.. Ilmu yang aku dapet di bangku kuliah bisa aku terapin di rumah.. Bersama anak-anakku.. Terlebih aku kuliah di jurusan pendidikan, jadi sekalipun aku ga bisa jadi guru di sekolah, aku bisa jadi guru buat anak-anakku.. Buah hatiku.. "Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas..." Ya! aku harus menjadi perempuan cerdas untuk anak-anak aku kelak :)




Aku,